Jumat, 04 Mei 2012

Larangan Berbicara Ketika Imam/ Khotib Naik Mimbar Pada Hari Jum'at


Rasulullah SAW bersabda :

"Idza Qulta li shohibika yaumal jum'ati "Anshit" wal imamu yakhtub, faqad laghauta wamma laghauta jum’atallah"

Artinya : Apabila kamu berkata kepada temanmu "ANSHIT" (Diamlah!) padahal saat itu imam sedang berkhutbah, maka kamu telah kehilangan (pahala).

Hadist ini menerangkan kepada kita agar tidak berbicara ketika imam sedang berkhutbah di atas mimbar pada Hari Jum at. Jangankan berbicara, menegur orang lain dengan berkata kepadanya "dengarkan! -- Diamlah!" juga tidak dibenarkan.

Kata "SHOHIB" (teman), dalam konteks hadist ini meliputi siapa saja yang mengajak kita berbicara. Dipakai kata Shohib (teman), karena biasanya yang mengajak kita berbicara adalah teman kita sendiri.

Kalimat "YAUMUL JUM'ATI" ( Hari Jum'at), mengisyaratkan bahwa larangan berbicara hanya pada Hari Jum'at, dan di khususkan lagi bahwa larangan tersebut hanya ketika Imam/Khatib sedang berkhutbah di atas mimbar.

Adapun sebelum Imam/Khatib naik mimbar atau sesudahnya tidak ada larangan berbicara, meskipun sebaiknya diam dan konsentrasi berzdikir mengingat Allah.

Kalimat "LAGHAUTA", oleh para ahli bahasa mengartikannya sebagai berikut :

1.    Kamu kehilangan Pahala.
2.    Kehilangan Fadhilah (keutamaan) Ibadah Jum'at.
3.   Ibadah Sholat Jum'at anda tidak ada bedanya dengan Ibadah Sholat Dzuhur biasa.

Kesimpulan dari arti yang mereka berikan tadi, hadist ini menerangkan bahwa orang yang mengajak kawannya berbicara, atau pun orang yang hanya menasehati kawannya agar tidak berbicara dengan mengucapkan kepadanya "ANSHIT" --diamlah--, maka Shalat Jum'atnya tidak sempurna, karena kehilangan pahala, atau kehilangan Fadhilah (keutamaan) Jum'at itu sendiri, sehingga pahala Jum'atnya hanya bagaikan pahala Sholat Dzuhur.

Ulama menambahkan, jika kita ingin menegur seseorang pada saat Khutbah Jum'at, agar tidak dengan bicara namun cukup dengan menggunakan isyarat.

Wallahu a'lam

Minggu, 01 April 2012

Burung, Monyet, dan Siput

Cerpen
Oleh : Suryani

Di sebuah hutan, tinggallah seekor burung, monyet, dan siput. Setiap pagi burung berkicau merdu, terbang ke sana kemari. Dia bebas mengepakkan sayapnya dan menjelajahi seisi hutan itu. Dia terlihat begitu bahagia. Si monyet pun demikian, ia tampak begitu lincah. Melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Hidupnya terlihat begitu mengasyikkan.

Lain halnya dengan siput, ia memandang iba pada dirinya sendiri. Dia menangisi dirinya yang terlahir tanpa sayap seperti yang burung miliki, dia menyayangkan dirinya yang tidak tercipta selincah monyet. Setiap hari siput hanya berdiam diri, meratapi nasib dan sesekali memandang indahnya hidup burung dan monyet.

Hingga kemudian, di suatu pagi…

Sang burung datang mengepakkan sayapnya sampai terengah-engah. Dia tampak begitu panik dan khawatir. Monyet yang merasa heran melihat tingkah burung yang berbeda dari biasanya pun menyapa burung seraya bertanya,

“Hai burung, ada apa? Mengapa kau terlihat begitu panik?”

“Hei monyet, aku mendengar berita buruk. Ada sekelompok manusia yang hendak menangkap semua hewan di hutan ini untuk diperjualbelikan.”

Siput yang turut mendengar jawaban dari burung tersentak, “hah, apa aku termasuk salah satu hewan yang akan di tangkap itu?”

“Ya siput, semua hewan termasuk kau!”

“Lantas kau mau pergi ke mana burung?” tanya monyet.

“Aku ingin terbang sejauh mungkin sampai mereka tak bisa temukan aku.”

“Baiklah aku juga ikut bersamamu, aku akan melompat dari satu pohon ke pohon lain sampai di tempat yang kurasa mereka tak dapat menemukanku”

Burung dan monyet bergegas pergi. Siput semakin menciut karena ia sadar bahwa dirinya tak dapat ikut bersama mereka. Lantas siput berteriak, “Hei, bagaimana denganku? Aku tak bisa terbang dan melompat. Apa yang harus kulakukan agar selamat? ”

“Kau punya cangkang kawan!” jawab burung singkat lalu meneruskan perjalanannya.

Siput tertegun mendengarnya.

“Cangkang?! Cangkang?!” pikirnya melambung.

“Ya kau benar kawanku, aku punya cangkang.” Ucapnya lirih. Sang siput pun segera bersembunyi di dalam cangkangnya.


Saudaraku…

Betapa sering perhatian kita terpusat pada apa yang tidak kita miliki, sehingga kita lupa bersyukur atas apa yang telah kita miliki. Betapa sering perhatian kita terpaut pada kekurangan yang ada pada diri, sehingga kita lupa bahwa ada kelebihan yang harus di sikapi dan di syukuri. Kita sibuk menghitung-hitung bahkan membangga-banggakan kelebihan dan kehebatan orang lain hingga mengerdilkan bahkan merendahkan diri sendiri.

Tidak perlu kau membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain. Karena Allah telah menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Allah Maha Adil, sobat. :)

Sekarang baliklah semua inti perhatianmu…

Mulailah untuk memperhatikan apa yang sudah kau miliki, kemudian syukuri!

Mulailah untuk memperhatikan kelebihanmu, kemudian sikapi dan syukuri!

Rabu, 28 Maret 2012

Islamic Animation






























Senin, 26 Maret 2012

Dia Lebih Baik Daripada Saya

Kita terkadang menggangap orang lain kedudukanya lebih rendah daripada kita, padahal urgensinya Allah-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa dan yang paling tahu apa yang kita kerjakan.

… maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (Q.S. An-Najm : 32).


Perlu mengoreksi diri sendiri dan perlu menyadari kelemahan diri inilah sepatutnya kita lakukan daripada mencari kesalahan orang lain dalam beribadah. Kita kita tidak begitu mengetahui keadaan diri kita yang penuh kelemahan dan kehinaan dihadapan Allah menjadikan diri kita lebih senang mencari kekurangan orang lain dari pada kekurangan diri sendiri. Sebenarnya dalam hal ini adalah bertumpu pada hakikat akhlak kita masing-masing. Dengan akhlak seseorang ini akan merasa dirinya tidak terlalu sempurna daripada orang lain. Hal inilah yang dinamakan jiwa seorang hamba Allah.

Dalam pemahaman ini perlu di cermati dalam hal memberi nasihat atau masukan yang pada dasarnya kita berniat baik untuk menasehati, niat yang baik harus dengan cara yang baik pula. Bagaikan kita berencana membuat bolu tapi memakai telur yang busuk; bahan-bahan yang kita gunakan tidak baik, begitupun halnya dengan niat dan cara kita bertindak. Tidak ada paksaan dalam Islam, kita diwajibkan untuk mengajak saudara kita dalam kebaikan dan kalau misalkan memasuki wilayah memaksa maka hukumnya akan berubah menjadi haram. Kepada sahabat karib pun demikian halnya, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kebaikan dan taqwa dilakukan dengan cara yang baik pula.

Hakikat hati kita kepada keadaan orang lain seharusnya dalam hal demikian :
(dipesankan oleh ulama besar, Syeikh Abdul Kadir Al-Jailani)

“Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinlah bahwa dia lebih baik daripada mu. Ucapkanlah dalam hatimu,”mungkin kedudukannya disisi Allah jauh lebih baik dan mulia.”

“Jika engkau bertemu dengan anak kecil, maka ucapkanlah dalam hatimu,” Anak ini belum bermaksiat kepada Allah sedangkan diriku telah banyak melakukan maksiat kepada Allah. Tentu anak ini lebih baik daripada aku.”

“Jika engkau bertemu dengan orang tua, maka ucapkanlah dalam hatimu,” Dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama diripada aku. Tentu dia lebih baik daripada aku.”

“Jika bertemu dengan orang yang berilmu, maka ucapkanlah dalam hatimu,” Orang ini telah mendapatkan karunia yang tidak bisa aku dapatkan, mengetahui apa yang tidak aku ketahui dan dia mengamalkan ilmunya. Tentu dia lebih baik daripada aku.”

“Jika engkau bertemu dengan orang yang jahil, maka ucapkanlah dalam hatimu,”Orang  ini bermaksiat kepada Allah karena dia jahil (tidak mengetahui) sedangkan aku bermaksiat kepada Allah yang padahal aku mengetahui akibatnya. Aku tidak tau bagaimana akhir dari umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik daripada aku.”

“Jika engkau bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah dalam hatimu,”Aku tidak tau keadaanya kelak, mungkin pada akhir usia dia, akan memeluk islam dan beramal sholeh, dan mungkin bisa jadi pada akhir usiaku akan kufur dan buruk.”

… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Q.S. Al-Maaidah : 2).

Intinya kita senantiasa berbaik sangka, dan berfikir positif yang pada akhirnya umpan balik yang positif akan menciptakan energi positif juga kepada kita.

Demikianlah sahabat fillah, sekelumit tentang Muamallah yang dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita sering mengalaminya; pergaulan dengan berbagai tingkat keilmuan, pemahaman, pendidikan, usia juga berbeda. Dalam hal ini kita diharapkan untuk lebih bersikap arif bijaksana dalam menyikapi berbagai masalah dan teknik menjaga hati tentunya dengan pijakan ilmu, wallahu’alam…

Rabu, 07 Maret 2012

Makna Muhasabah

Oleh : Mochamad Bugi


Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata, ‘Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)

Gambaran Umum Hadits

Hadits di atas menggambarkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan Rab-nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah). Hal terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah mengaitkan evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa nafsu dan banyak angan.

Indikasi Kesuksesan dan Kegagalan

Hadits di atas dibuka Rasulullah dengan sabdanya, ‘Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.’ Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah visi yang membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga kehidupan setelah kematian.

Seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat. Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi dan planing untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi. Karena orang sukses adalah yang mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya. Orang bertakwa adalah yang ‘rela’ mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang lebih mulia, ‘kebahagian kehidupan ukhrawi.’

Dalam Al-Qur’an, Allah swt. seringkali mengingatkan hamba-hamba-Nya mengenai visi besar ini, di antaranya adalah dalam QS. Al-Hasyr (59): 18–19.

Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai kunci pertama dari kesuksesan. Selain itu, Rasulullah saw. juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Dan hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya dalam hadits di atas dengan ’dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.’ Potongan hadits yang terakhir ini diungkapkan Rasulullah saw. langsung setelah penjelasan tentang muhasabah. Karena muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.

Terdapat hal menarik yang tersirat dari hadits di atas, khususnya dalam penjelasan Rasulullah saw. mengenai kesuksesan. Orang yang pandai senantiasa evaluasi terhadap amalnya, serta beramal untuk kehidupan jangka panjangnya yaitu kehidupan akhirat. Dan evaluasi tersebut dilakukan untuk kepentingan dirinya, dalam rangka peningkatan kepribadiannya sendiri.

Sementara kebalikannya, yaitu kegagalan. Disebut oleh Rasulullah saw, dengan ‘orang yang lemah’, memiliki dua ciri mendasar yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing, tidak ada action dari planingnya, terlebih-lebih memuhasabahi perjalanan hidupnya. Sedangkan yang kedua adalah memiliki banyak angan-angan dan khayalan, ’berangan-angan terhadap Allah.’ Maksudnya, adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut: Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada Allah, bahkan selalu berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Urgensi Muhasabah

Imam Turmudzi setelah meriwayatkan hadits di atas, juga meriwayatkan ungkapan Umar bin Khattab dan juga ungkapan Maimun bin Mihran mengenai urgensi dari muhasabah.

1. Mengenai muhasabah, Umar r.a. mengemukakan:

‘Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.

Sebagai sahabat yang dikenal ‘kritis’ dan visioner, Umar memahami benar urgensi dari evaluasi ini. Pada kalimat terakhir pada ungkapan di atas, Umar mengatakan bahwa orang yang biasa mengevaluasi dirinya akan meringankan hisabnya di yaumul akhir kelak. Umar paham bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab dari Allah swt.

2. Sementara Maimun bin Mihran r.a. mengatakan:

‘Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya’.

Maimun bin Mihran merupakan seorang tabiin yang cukup masyhur. Beliau wafat pada tahun 117 H. Beliaupun sangat memahami urgensi muhasabah, sehingga beliau mengaitkan muhasabah dengan ketakwaan. Seseorang tidak dikatakan bertakwa, hingga menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri. Karena beliau melihat salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi.

3. Urgensi lain dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah swt. dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya. Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an: “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” [QS. Maryam (19): 95, Al-Anbiya’ (21): 1].

Aspek-Aspek Yang Perlu Dimuhasabahi

Terdapat beberapa aspek yang perlu dimuhasabahi oleh setiap muslim, agar ia menjadi orang yang pandai dan sukses.

1.Aspek Ibadah

Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah. Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini. [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]

2. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki

Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:

Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’ (HR. Turmudzi)

3.Aspek Kehidupan Sosial Keislaman

Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw. dalam sebuah hadits:

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)

Melalaikan aspek ini, dapat menjadi orang yang muflis sebagaimana digambarkan Rasulullah saw. dalam hadits di atas. Datang ke akhirat dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain; mencaci, mencela, menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengintimidasi dsb. Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya. Bahkan karena kebaikannya tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut dicampakkan pada dirinya. Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan dosa, akibat tidak memperhatikan aspek ini. Na’udzubillah min dzalik.

4. Aspek Dakwah

Aspek ini sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan. Karena menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga substansi dari da’wah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat dsb.

Tetapi yang cukup urgens dan sangat substansial pada evaluasi aspek dakwah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah sejauh mana pihak lain baik dalam skala fardi maupun jama’i, merasakan manisnya dan manfaat dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan? Jangan sampai sebuah ‘jamaah’ dakwah kehilangan pekerjaannya yang sangat substansial, yaitu dakwah itu sendiri.

Evaluasi pada bidang dakwah ini jika dijabarkan, juga akan menjadi lebih luas. Seperti evaluasi dakwah dalam bidang tarbiyah dan kaderisasi, evaluasi dakwah dalam bidang dakwah ‘ammah, evaluasi dakwah dalam bidang siyasi, evaluasi dakwah dalam bidang iqtishadi, dsb?
Pada intinya, dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang jauh dari nilai-nilai dakwah itu sendiri. Mudah – mudahan ayat ini menjadi bahan evaluasi bagi dakwah yang sama-sama kita lakukan: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Yusuf (12): 108]



Sumber : http://www.dakwatuna.com/

Sabtu, 03 Maret 2012

Hasbi Rabbi Jallallah | Lyrics

O Allah the Almighty
Protect me and guide me
To your love and mercy
Ya Allah don’t deprive me
From beholding your beauty
O my Lord accept this plea

CHORUS:
Hasbi rabbi jallallah
Ma fi qalbi ghayrullah
My Lord is enough for me, Glory be to Allah
There is nothing in my heart except Allah

CHORUS

Hindi:
Wo tanha kaun hai
Badshah wo kaun hai
Meherba wo kaun hai
Who is the only One?
Who is the King?
Who is the Merciful?
Kya unchi shan hai
Uskey sab nishan hai
Sab dilon ki jan hai
Who is the most praised and benevolent?
Whatever you see in this world is His sign
He’s the love of every soul

CHORUS

Turkish:
Affeder gunahi
Alemin padisahi
Yureklerin penahi
He is the Forgiver of all sins
He is the King of the universe
He is the Refuge of all hearts
Isit Allah derdimi, bu ahlarimi
Rahmeyle, bagisla gunahlarimi
Hayreyle hem aksam hem sabahlarimi
O Allah hear my sorrows and my sighs
Have mercy and pardon my sins
Bless my night and days

CHORUS

Arabic:
Ya rabbal ‘alamin
Salli ‘ala Tahal amin
Fi kulli waqtin wa hin
O Lord of the worlds
Send peace and blessings
On Ta-ha the trustworthy
In every time and at every instant
Imla’ qalbi bil yaqin
Thabbitni ‘ala hadhad din
Waghfir li wal muslimin
Fill my heart with conviction
Make me steadfast on this Religion
And forgive me and all the believers

CHORUS

Nasheed Information:
Artist: Sami Yusuf
Album: My Ummah
Hindi lyrics: Ustadh Mehboob
Turkish lyrics: Ustadh Firooz
Arabic & English lyrics: Bara Kherigi
Melody: Afghani folklore
Copyright: 2005 Awakening



Sumber : http://www.islamiclyrics.net/

Kamis, 01 Maret 2012

Qasida Burda | Lyrics

#Chorus# 
Mawlaya Salli Wassalim da-Iman Abadan Ala Habi Bika Khairil Khalqi Kulli'mi
Mawlaya Salli Wassalim da-Iman Abadan Ala Habi Bika Khairil Khalqi Kulli'mi

Muhammadun Sayyidul Kawnayni Wa-Thaqalain
Muhammadun Sayyidul Kawnayni Wa-Thaqalain
Wal-Fareeqaini Min Urbin Wa Min-Ajami

(chorus)

Huzita Fil Lahilam Tuhzam Wa-Lam Tahimi
Huzita Fil Lahilam Tuhzam Wa-Lam Tahimi
Hataa Ghuwadad Ummatal Islami Fi'nujoomi

(chorus)

Habiballah Rasoolallah Imam-al Mursaleen
Habiballah Rasoolallah Imam-al Mursaleen
Saraytan Haramin Laylan Ila Haramin Kama Saral Badru Fi'tajin Mina'zulamin
Saraytan Haramin Laylan Ila Haramin Kama Saral Badru Fi'tajin Mina'zulamin
Wa-bitatan Qa'ila Anil Tamin'zilatan
Wa-bitatan Qa'ila Anil Tamin'zilatan
Min Qami'qaw Sayinal Tudrak Wa-lam Turami

(chorus)

--------------------------------------------------------
#Chorus# 
Oh God send prayers and peace, for always and forever, 
Upon the one you have loved, the best from all creation 
Oh God send prayers and peace, for always and forever, 
Upon the one you have loved, the best from all creation
Muhammad, prince of the two worlds, and the two beings, 
Muhammad, prince of the two worlds, and the two beings, 
and all the people from among the arabs and from the non-arabs
(chorus)
Nothing deterred you, no defeat, and no loss 
Nothing deterred you, no defeat, and no loss 
Until this community of Islam was set among the stars
(chorus)
Oh Beloved of God, Messenger of God, Imam of the Prophets 
Oh Beloved of God, Messenger of God, Imam of the Prophets 
You journeyed from one sanctuary by night to another sanctuary 
As the full moon travels through intense darkness 
You journeyed from one sanctuary by night to another sanctuary 
As the full moon travels through intense darkness 
And you kept ascending until you reached a position 
And you kept ascending until you reached a position 
At a distance of two cubits as had never been attained, nor has been sought
(chorus)

Sumber : http://www.lyrics.my/

Jumat, 24 Februari 2012

Cara Berfacebook yang Syar’i??


Oleh : Al Ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani
Tanya : Akhir-akhir ini banyak ikhwan salafy yang gandrung dengan facebook. Bahkan tak jarang terjadi fitnah antar ikhwan dan akhwat. Lantas kami mohon arahan dan nasehat ustadz dalam hal ini. Serta bagaimanakah sebaiknya berfacebook dengan syar’i?
Jawab : Teknologi itu ibarat pisau bermata dua. Bisa menjadi ziyaadatul khair (tambahan kebaikan) dan bisa jadi ziyaadatus syarr (tambahan keburukan). Kalau kita manfaatkan dalam perkara yang diridhai dan dicintai oleh Allah maka dia akan menjadi kebaikan yang lebih. Tapi kalau kita tidak pandai menggunakannya, dia akan menyembelih kita.
Sehingga segala sesuatu yang bermata dua seperti ini ibarat pisau yang bermata dua maka kita harus berhati-hati dalam menggunakannya.
Semua ini kembali ke diri kita masing-masing untuk bertakwa kepada Allah jalla wa”ala. Ittaqillaaha haitsumaa kunta (1), kata Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada.
Kemudian kalau kita mengetahui bahwa diri kita adalah lemah. Jangan kita bermain-main dengan pisau yang bermata dua. Karena kemungkinan dia menyembelih kita lebih besar daripada kita bisa menggunakannya dengan baik. Dan saya memang tidak menyarankan untuk ikhwan menyibukkan diri dengan yang namanya internet atau secara lebih spesifik apa yang namanya facebook. Karena memang medianya bukan untuk media salafiyyin, pada asalnya. Media yang diadakan oleh mereka itu memang untuk memfasilitasi, memudahkan acara-acara ataupun memudahkan kegiatan-kegiatan, arena-arena mereka melakukan maksiat kepada Allah Jalla wa’ala yang mereka anggap baik padahal maksiat.
Sebagai contoh minimalnya saja. Dengan facebook itu… mungkin yang punya facebook tidak jarang melihat foto-foto wanita yang bukan mahramnya. Itu minimal!! Benar atau benar??… Itu pasti!! Sulit dihindarkan. Ini salah satu dan banyak lagi yang lainnya, sehingga ya… Semua kembali kepada kita.
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, memiliki sikap wara’. Dia akan meninggalkan perkara-perkara yang samar. Apalagi perkara-perkara yang jelas haram. Famanittaqasy syubuhaat faqadis tabra’ lidiinihi wa ‘irdhihi(2). Dan barangsiapa yang menjaga diri daripada asy syubuhaat (perkara yang samar). Dia telah menjaga kehormatan dirinya dan agamanya.
Na’am, sehingga kita jangan bermain-main dengan sesuatu yang samar. Yang kita tidak mampu untuk mengendalikannya. Apalagi kalau jelas-jelas akan menjatuhkan kita kepada yang haram.
Dan media internet secara umum adalah media yang penuh dengan keburukan. Kalau kita mau kalkulasi antara kebaikannya dan keburukannya. Bisa dikatakan dia itu seperti khamr. Kemudharatannya lebih banyak daripada kemanfaatannya.
Berapa banyak keburukan yang ada didalamnya kalau kita bandingkan dari kebaikan yang ada sekian persen didalamnya. Sehingga kalau kita menyibukkan diri, mulai dari bangun tidur langsung online sampai dia mau memejamkan mata. Baru dia selesai dari kegiatan onlinenya. Ini… Manusia macam apa??
Seorang yang mengerti akan kebaikan, dia tidak akan menghabiskan waktu dan dirinya di depan internet yang penuh dengan keburukan. Dan benar-benar internet ini adalah ujian bagi kita, yang menggunakannya. Karena sedikit saja terpeleset, langsung jatuh kepada media yang maksiat, bahkan tatkala kita menggunakannya. Walaupun kita ingin yang baik. Mau tidak mau terkadang dipaksa kepada yang maksiat. Muncul gambar-gambar yang tidak baik. Padahal kita tidak mengaksesnya. Promosi, iklan atau apa.
Na’am, Baarakallaahu fiikum
Oleh karena itu, sibukkan diri kita dengan ilmu yang syar’i. Dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, membaca buku, muraaja’atul Qur’an, Hifzhul Qur’an. Banyak hal-hal yang bermanfaat. Daripada kita menghabiskan waktu depan internet.
Bolehlah sekali setahun berinternet, misalnya. Kalau terlalu ekstrim, yaa dikurangi sekali dalam setengah tahun. Kalau terlalu ekstrim yaa paling tidak sekali sebulan misalnya. Yakni saat kita kepingin mendapatkan suatu berita yang sangat penting. Laa Ba’s
Upayakan sedapat mungkin mengurangi kegiatan (berinternet), sebab ini tidak akan membawa kebaikan kepada kita, biar saja orang lain bilang kolotlah, gapteklah, inilah itulah…. sebab celaan dan cercan manusia itu tidak akan membahayakan kita. Yang tahu akan kebaikan itu adalah diri kita sendiri terhadap diri kita, bukan mereka. Barakallahu fiikum.
Semoga jawaban yang sedikit ini bisa kita pahami dengan hati yang ikhlas hanya mengharap wajah Allah Subhanallahu wa ta’ala
Catatan kaki :
(1) Dari Abu Dzar Radhiallaahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku:
تَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik niscaya kebaikan akan menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang mulia.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Birri Washshilah, hadits no. 1987. At-Tirmidzi mengatakan: Hadits ini hasan shahih. Asy-Syaikh Al-Albani menghasankan dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)
(2) Dari Abi Abdillah An Nu’man bin Basyir rhadiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Sesungguhnya perkara yang halal telah jelas, dan perkara yang haram pun telah jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang meragukan, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa menjaga dirinya dari perkara yang syubhat, maka ia telah menjaga keselamatan agamanya dan kehormatannya.
Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat, berarti ia telah terjerumus dalam perkara yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat daerah terlarang sehingga hewan-hewan itu nyaris merumput di dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap raja memilliki daerah terlarang. Ketahuilah, bahwa daerah terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim)
Transkrip tanya jawab Ust. Abdul Mu’thi Al Maidani Hafizhahullaah untuk blog
http://permatamuslimah.co.nr

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger